Memilih jalan

Adakah orang yang begus-durnar-benar netral? Jawabnya pasti tidak, karena sesungguhnya setiap pribadi adalah insan politik, bersikap atau tidak bersikap adalah pilihan politik. Ketidak netralan pada saatnya akan mendorong setiap orang untuk beropini tentang sesuatu situasi yang sedang trend dalam masyarakat. Ketidak netralan ditambah dengan ketiadaan pemahaman akan substansi issue pada  akhirnya akan sangat mudah secara naluriah menggiring seseorang menyampaikan opini yang kurang tepat, terlebih lagi bila ditambah dengan keberpihakan yang lebih dikarenakan isme-isme yang diantaranya oleh sebab primordial.

Dari banyaknya opini yang berseliweran di timeline media-media sosial, jelas terbaca bahwa proses dukung mendukung dalam demokrasi saat ini masih jauh dari harapan dan cita-cita demokrasi yang ideal, masih banyak orang-orang yang menyampaikan opini dan dukungannya lebih dikarenakan emosional yang sesaat ketimbang pertimbangan (alasan) yang rasional, masih banyak kita yang memilih untuk mendukung dan tidak mendukung oleh karena sebab yang “sesunguhnya” tidak substantive (menurut hukum formil) atau tidak berkorelasi langsung dengan posisi dan jabatan serta segala tetek bengeknya yang sedang diperebutkan.

Bagaimana bisa ada seorang yang mengaku Nasionalis berpihak dan mendukung karena sebab yang Non Nasionalis, Non Pancasilais, Non Kebhinekaan (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan)? Masihkah alasan tersebut sejalan dengan 4 Pilar Kebangsaan kita? Jika dalam Islam tidak membolehkan mengangkat seorang pemimpin Non Muslim, pada kenyataannya hal tersebut masih menimbulkan tafsir berbeda-beda yang membuat ummat Islam itu sendiri terbelah oleh karena ada calon lain dan muslim yang ahlaknya sama atau bahkan lebih baik dari yang non muslim. Jadi apabila seorang muslim memilih si A tidaklah serta merta karena fanatik buta akan agamanya tetapi lebih dikarenakan masih adanya pilihan lain yang diimani lebih  baik (lebih sedikit mudlorotnya), dalam konteks berdemokrasi dinegara Pancasila pilihan tersebut juga tentunya dapat dipahami sama halnya dengan Ummat Muslim yang menjatuhkan keberpihakannya pada Non Muslim. Siapapun dibumi ini tidak bisa memaksakan sesuatu terutama untuk hal yang sudah final bagi lainnya. Seperti halnya persoalan kenegaraan dan kebangsaan kita sudah final sejak 1945, tentang ke agamaan kita sudah final sejak jamannya para Nabi berlalu, karenanya dalam berpendapat sampaikanlah opini yang rasional, masuk akal dan terukur sejalan dengan semangat kebangsaan kita. Jadi pada intinya bahwa dengan dijadikannya unsur SARA kedalam pertimbangan untuk menentukan pilihan, sesunguhnya adalah anomali dari pada semangat kebangsaan kita. Teriaklah sekerasnya mendukung figure yang kita sukai karena kesamaan visi dan missi, karena prestasi, karena kepemimpinan, karena ahlak yang baik dan seterusnya asal bukan karena SARA, itulah Pancasila, itulah Kebhinekaan.

Memisahkan muatan politik dalam kasus penistaan agama yang sedang mendunia saat ini memang sangat sulit untuk dilakukan, akan tetapi kita harus melihat persoalan ini dengan jernih bahwa masalah hukum tentang penistaan itu memang benar adanya. Melihat pergerakan massa dimasing-masing daerah di negeri  ini, melihat pergerakan massa yang mengikuti tiga kali aksi di ibukota; sebagai orang yang mempunyai pengalaman dalam hal mobilisasi massa aku hanya bisa katakan bahwa yakinkanlah dirimu bahwa kasus penistaan agama itu benar adanya. Ini aku sampaikan karena sepanjang pengalamanku tidak ada kekuatan ormas dan politik manapun yang mampu memobilisasi massa secara massive, atas biaya sendiri,  pada saat yang bersamaan di seantero negeri ini, pergerakan ini murni karena keterpanggilan. Habieb Rizieq adalah salah satu elemen yang terlibat didalamnya, yang mendapatkan amanah dari banyak elemen untuk berada digaris depan, akan tetapi beliau bukanlah satu-satunya faktor (sekedar mengingatkan kita bahwa “perbedaan” beliau dengan si penista ini bukan barang baru tetapi sudah hampir tiga tahun lamanya, pernah kah kita melihat perlawanan yang begitu sengit dan besar selama rentang waktu itu?) mereka para Habaib, Alim dan Ulama serta saudara-saudara kita yang bergerak, rela melepas identitas keormasannya, melepas identitas kesukuannya, melepas identitas kepartaiannya menyatu dan bergerak. Jadi salah besar kita bila melihat persoalan ini dengan mengatakan bahwa; betapa hebat dan kuatnya tersangka penista sampai harus mendatangkan massa dari seantero negeri, kalimat ini adalah kalimat propaganda sektarianisme, fanatisme yang sudah melampaui logika berpikir. Kita seharusnya melihat bahwa politisasi kasus penistaan agama ini sesunguhnya dilakukan oleh siapa, lebih dikarenakan Ulama dan masyarakat serta kelompok kekuatan politik tertentukah atau lebih dikarenakan kekuatan kekuasaan penguasa yang sejak awal (patut diduga) terlihat berusaha melindungi sipenista? Dalam banyak tulisan dan komentar dimedia sosial sering aku tuliskan bahwa; menista salah satu agama, sama artinya dengan merendahkan agama yang lainnya, dan hari ini dipanggung tabliqh akbar 212 hal tersebut ditegaskan sama oleh Habib Riziq, kenapa ini begitu penting? Kenapa hal ini oleh Habib Rizieq juga ditegaskan, karena sesunguhnya itulah Indonesia, itulah Pancasila, itulah keBhinekaan.

Aku tidak akan mengatakan betapa bodohnya engkau, kita dan aku, juga tidak akan memaksakan pendapatku untuk dapat engkau pahami, kewajibanku hanyalah menyelesaikan tulisan ini tanpa harus menutupnya dengan kesimpulan, karena secara sederhana aku berpikir:

bagaimana mungkin aku meyakinkanmu tentang nilai kebenaran yang universal sebagaimana semua kitab agama yang ada, sementara Tuhan sendiri tidak mampu melakukannya untukmu saat ini?