Moraliskah Aku?

Dalam praktek sehari-hari Moral dalam berbahasa sering dikaitkan dengan moral/prilaku seseorang yang sesungguhnya. Itulah kenapa banyak pejabat korup memakai kesantunan sebagai bungkus dari kebusukan mereka. Sudah lama kita tertipu dengan kesantunan seperti ini. Kita seolah rela mereka maling, selama tutur kata mereka santun.  Ada sebuah istilah yang cocok untuk golongan yang lebih mementingkan kesantunan berbahasa dibanding moral yang sesungguhnya: moralis bahasa. Ya tak apa menjadi moralis bahasa, asal konsisten saja. Menjadi konsisten ini memang agak susah, karena seringkali orang goblok pun bahkan kadang-kadang bisa menjadi pintar.
Didalam Al-Qur’an secara tegas melarang melakukan “pemaksaan teologis” terhadap orang lain. Islam membebaskan keputusan masing-masing individu
mau beriman atau tidak karena memang Tuhan tidak akan rugi seandainya pun semua umat manusia di jagat ini mengingkari-Nya.  Nah kalau dalam hal keimanan saja Tuhan santai bingit, lalu kenapa sejumlah umat Islam malah “sewot” dengan tata-busana muslimah yang belum berhijab atau sudah berhijab tapi tidak sesuai syariat misalnya.

Jangan pernah ada pandangan sinisme terhadap orang lain. jangan menuduh perempuan atau laki-laki dewasa yang suka bercanda, sekalipun candanya menurut anda kelewat batas. karena apa yang anda pahami serta apa yang anda mengerti memang selalu tidak akan pernah sejalan dengan mereka yang tertawa terbahak-bahak diseberang anda,  terlebih diantara mereka yang bercanda itu secara umum adalah orang-orang yang memang sejak dahulu mempunyai kedekatan.

Oleh karenanya tulisan ini sebenarnya mengajak kita untuk lebih bijak memilih kalimat, waktu dan cara untuk menyela mereka yang sedang happy, sehingga anda tidak dipahami sebagai penganut “standar ganda moral” yang tidak membawa manfaat apapun dalam forum-forum diskusi dan pertemanan, selain dari pada “si perusak suasana happy” mereka.  Jangan pernah merasa diri kita “lebih” baik dari yang lain: lebih agamis, lebih moralis, lebih taat, lebih saleh, lebih berilmu, lebih nyunah, lebih santun, dst. Bukankah Iblis itu diusir dari surga karena kesombongannya dan merasa dirinya lebih super dari mahluk lain? Jangan pernah merasa diri sebagai “yang paling berhak atau layak” untuk menghuni surga karena memang surga-neraka tidak ditentukan oleh standar “bagaimana anda merasa”,  alangkah lebih baik dan bijaknya jika kita menata diri kita sendiri,
untuk tidak menjadi seperti orang lain dalam bercanda, yang bisa anda lakukan dengan cara aktiflah menyampaikan pokok-pokok pikiran yang menurut anda positif dengan bahasa yang sederhana, sebagaimana keseharian anda, jangan tunjukkan bahwa anda sedang mengutip kalimat filsuf yang kadang hanya akan memabawa kesan munafik atas diri anda, konsistenlah demikian itu dalam banyak moment dan kesempatan tanpa harus menyela kebahagian teman yang lain dalam menikmati kebersamaan. Sehingga perlahan mereka akan menyerap kebenaran nilai-nilai (termasuk ketidak benaran anda) yang anda sampaikan.
“Walaaah…kamu sok jadi moralis aja!” Kira-kira begitu gumanan yang sering saya dengar, terutama tatkala seseorang mengemukakan penilaian etisnya terhadap isu tertentu, walaupun kadang penilaian itu disampaikan tidak dengan kalimat yang tegas, hanya melalui mengirimi/share/upload meme yang banyak bertebaran di internet. Biasanya, orang yang berguman demikian adalah orang yang merasa sudut pandangnya diserang atau ia melihat ketidak konsistenan antara apa yang dikatakan oleh orang lain dengan apa yang dia lakukan. Sebelum membahas esensi dari gumanan di atas, perlu diingat bahwa etika atau moral pada dasarnya berbicara tentang “apa yang seharusnya dilakukan atau dipercayai” termasuk juga berbicara mengenai “bagaimana seharusnya menjadi” (khususnya bagi mereka yang menganut virtue ethics). Itu berarti sebenarnya, menyatakan “Kamu sok jadi moralis” pun merupakan sebuah ungkapan moral/etis juga. Karena, ungkapan ini sebenarnya mengasumsikan “apa yang seharusnya”. Jadi secara logis, orang yang menyatakan “kamu sok jadi moralis” sebenarnya juga bersikap sok jadi moralis dengan menyatakan orang lain sok jadi moralis! Podowae! Samimawon!
Nah sekarang Persoalannya bukan sok jadi moralis atau bukan. Semua orang pada dasarnya memiliki penilaian moral/etis. Itu sesuatu yang given. Jadi tidak ada orang yang tidak sok moralis. Orang yang bersikap adem atau memilih diam terhadap suatu isue moral pun sebenarnya itu merupakan cerminan dari suatu sikap moral atau sikap etis. Itu adalah suatu keputusan etis atau moral. Persoalannya adalah atas dasar konsep moral/etis yang mana anda memperlihatkan sikap moral atau sikap etis anda? Dan jika ini adalah esensinya, maka kita akan segera memasuki “rimba” konsep etis yang begitu banyak bertebaran di sekitar kita. Dengan demikian, lebih baik kita menyorot acuan etis/moral yang dianut oleh orang yang bersangkutan, ketimbang memberinya label “sok moralis”. Memberinya label demikian, berarti kita bukan hanya melakukan sesat pikir poisoning the well fallacy tetapi juga bersikap inkonsisten. Poisoning the well karena kita sekadar memberinya label “negatif” tanpa membahas konsep atau asumsi etisnya; dan inkonsisten karena kita sendiri pada dasarnya mengemukakan penilaian moral untuk dapat menyatakan orang lain sok jadi moralis!
Selamat malam semua, jangan lupa bahagia dengan sesama dan keluarga anda!!
***(edit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s