Demokrasi ala Devide Et Impera yang lagi laris manis karena Ahok

devide

adu domba

Devide et impera, adalah ide dan gagasan pergerakan politik kolonial yang berhasil diterapkan selama ber abad-abad di sepanjang Nusantara. Devide et impera ini sejatinya hadir belakangan karena dibawa oleh Belanda, sementara sebelum kehadiran Belanda Nusantara sebagai gugusan pulau perdagangan telah dihuni oleh berbagai macam suku, ras dan bangsa. Pada masa kejayaan Belanda berkuasa di Nusantara dan terus berlangusng setelahnya bahkan hingga hari ini (sepertinya),  devide et impera  tidak lagi hanya menjadi strategi perang, namun lebih menjadi strategi politik yang mengkombinasikan seluruh pengetahuan yang dibutuhkan dalam penaklukan.  Devide et impera juga menghasilkan berbagai varian perluasan taktik yang bisa kita temukan dalam rasisme, regionalisme dan fanatisme religius. Namun perlu dipahami bahwa strategi pada dasarnya merupakan alat yang mengabdi pada tujuannya yang juga bervariasi. Kolonialisme merupakan salah satu tujuan ekonomi-politik yang melahirkan strategi ini, namun dalam perkembangannya strategi ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi.
Dalam konteks Indonesia dimasa kolonial, pemerintahan  Belanda menggunakan beberapa model pembelahan yang dapat dilihat dalam konstruksi aturan, yaitu; melakukan segregasi sosial berdasarkan Staatsregeling No. 163 IS/1854 yang membagi populasi di Hindia Belanda (Indonesia sekarang) menjadi tiga lapisan yaitu: Pertama;   EROPA, Kedua; TIMUR ASING YANG MELIPUTI CHINA, INDIA dan ARAB, Ketiga; PRIBUMI. Ketiga populasi tersebut juga menggunakan mekanisme kontrol hukum yang berbeda yaitu Hukum Positif bagi Eropa, Hukum Agama bagi Timur Jauh dan Hukum Adat bagi Pribumi.
Operasi lain dari strategi ini juga dilakukan dengan memperdalam perbedaan antar etnis dan melakukan sabotase terhadap komunikasi antar etnis. Sabotase dilakukan dengan mengangkat etnis tertentu menjadi lebih unggul dari etnis lainnya atau merekrut etnis tertentu dalam jajaran administratur maupun militer kolonial. Strategi ini juga dilakukan didalam komunitas etnis dengan memberikan kesempatan terbatas bagi lapisan elit dari etnis tersebut untuk mendapatkan pendidikan barat.
Strategi ini memiliki titik balik ketika kelompok yang terbelah tersebut mulai memahami keterpisahan mereka dan kesamaan kepentingan mereka. Selain itu juga ketika konflik yang melebar secara horizontal dapat diselesaikan, koordinat konflik akan berubah pada koordinat vertikal sehingga pengguna strategi ini dapat diidentifikasi dengan mudah sebagai musuh. Perjuangan kemerdekaan nasional merupakan salah satu bentuknya.
Pada praktek perluasannya,  devide et impera tidak berhenti pada masa kolonial namun juga terus bergulir hingga sekarang sebagai strategi merebut dan juga mempertahankan kekuasaan.
Machiavelli  dalam Art of War  menggambarkan strategi ini sebagai strategi yang dijalankan oleh pemimpin perang untuk melemahkan konsentrasi perlawanan musuh dalam kutipan berikut;

“A Captain ought, among all the other actions of his, endeavor with every art to divide the forces of the enemy, either by making him suspicious of his men in whom he trusted, or by giving him cause that he has to separate his forces, and, because of this, become weaker.” (Machiavelli, [1521] 2003)

Kutipan diatas menggambarkan bahwa, strategi ini berkaitan erat dengan dominasi, politik dan efisiensi. Strategi ini digunakan untuk merebut kekuasaan juga mempertahankan kekuasaan dengan memecah perlawanan kelompok besar kedalam kelompok-kelompok kecil sehingga mudah ditaklukkan sekaligus mencegah kemungkinan kelompok-kelompok kecil tersebut untuk bersatu. Artinya pengguna strategi ini harus mampu membelah sekaligus mempertahankan pembelahannya atau bahkan memperluas pembelahan dalam komunitas-komunitas lawan.
Strategi ini pada masa kolonial menghasilkan sentimen nasionalisme dari kelompok-kelompok yang dibelah yang kemudian bersatu melawan penjajah yang menggunakan strategi devide et impera. Namun tidak berarti strategi ini sudah tidak dapat lagi digunakan karena pada prakteknya setelah pembebasan nasional, negara masih mungkin menggunakan strategi ini untuk menekan oposisi dalam pemerintahannya. Hal ini disebabkan oleh pembelahan yang lama dan perbedaan yang semakin menguat antara kelompok sebelum persatuan muncul sehingga pembelahan kembali muncul setelah tujuan persatuan tercapai
Secara historis, penggunaan strategi ini memiliki basis material yang sama yaitu kekuasaan sebagai suprastruktur. Namun secara dialektis, strategi ini beroperasi dengan membentuk diskriminasi dan mempertentangkan identitas kelompok. Setiap kelompok yang dipertentangkan biasanya berkaitan dengan hal yang sesungguhnya sudah final sejak Indonesia merdeka dan sejak jamannya para nabi berkuasa.
Strategi devide et impera tidak menciptakan pemilahan baru melainkan mengeksploitasi perbedaan dalam identitas kelompok sehingga kelompok-kelompok tersebut membedakan dirinya dengan yang lain. Eksploitasi perbedaan identitas kelompok dilakukan dengan mempertentangkan nilai yang ada di dalam suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Oleh karena itu pengguna strategi ini harus mempelajari persamaan dan perbedaan yang dimiliki oleh kelompok yang akan dikuasai sehingga mampu memunculkan celah pertentangannya.
Strategi devide et impera mengharuskan penggunanya memiiki model pengorganisiran kelompok dan waktu yang tepat untuk meluaskan isu. Hal ini hanya dimungkinkan jika pengguna strategi memiliki dominasi pengetahuan dan kekuatan hegemoni atas kelompok tersebut. Hegemoni kelompok ini juga harus dikembangkan dalam bentuk represi untuk memastikan pembelahan kelompok yang dikuasai tetap terjaga
Kekuatan utama dari strategi devide et impera adalah kemampuannya memecah konsentrasi dan keleluasaannya melakukan represi. Kekuatan ini tidak berarti mutlak, persatuan dari kelompok yang dibelah tetap menjadi ancaman bagi jalannya strategi ini. Selain itu dalam konteks negara yang mempertahankan kekuasaan kelemahan lain adalah frustasi politik yang melahirkan kekuatan politik diluar lembaga yang dibentuk. Kekuatan alternatif tersebut biasanya menggunakan tekanan politik diluar aturan rotasi politik yang sengaja diciptakan oleh kelompok kepentingan untuk melawan represi politik.
Strategi devide et impera dalam sudut pandang politik merupakan strategi penaklukan yang dilakukan dengan mengkooptasi potensi kekuatan lawan. Kooptasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan pengetahuan, keterbatasan akses informasi, lemahnya kesadaran politik dan yang paling utama adalah disorganisasi sosial. Strategi ini tidak dapat dilakukan oleh individu secara parsial melainkan oleh kekuatan terorganisir yang memiliki dominasi pengetahuan ataupun sumber daya ekonomi. Antitesa terhadap strategi ini adalah reorganisasi sosial, distribusi pengetahuan dan kesadaran politik. dengan memahami strategi ini, kita dapat mengidentifikasi dampak strategi ini sekaligus mengidentifikasi pelakunya.
Kenapa seluruh stekholder demokrasi dinegeri ini terkesan ogah-ogahan menjadikan momentum Pilgub DKI menjadi pilot project atas memperjuangkan tujuan kita hidup bernegara dengan mempraktekkan cara berpolitik yang sebenar-benarnya dengan sesungguh hati?

**sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s