Pemimpin, Kepemimpinan Vs Pemilih Adalah Ujian

akibat sembrono

sembrono

Sesungguhnya setiap pemimpin yang terpilih dan lahir adalah ujian bagi pemilihnya, kenapa demikian? Karena lahirnya seorang pemimpin adalah sebab sebuah proses panjang yang didalamnya melibatkan banyak hal dan banyak pihak serta banyak modal, mulai dari modal abab sampai dengan modal yang paling bernilai yaitu harga diri. Dan sadar atau tidak kita bahwa pemilih adalah salah satu pihak yang ikut andil urun dalam permodalan ini bahkan kadang pemilih adalah modal itu sendiri. Pemimpin adalah ujian karena setelah dia terpilih dengan latar belakang sebagaimana diatas, maka sejak keterpilihannya dipundaknyalah seluruh harapan dari masyarakat (pemilih maupun yang tidak ikut memilih) di letakkan, harapan akan segala hal yang lebih baik dengan jangkauan waktu yang relative singkat semua harus berubah (termasuk kesejahteraan orang per orang yang mendukungnyapun haruslah berubah, yang dahulu kemana-mana hanya jual omongan dan bawa kertas beberapa lembar yang isinya adalah itung-itungan yang tidak matematis namun terlihat matematis , yang penting mempunyai nilai ekonomis, buat nyambung  hidup, kini banyak diantaranya kamana-mana sudah bawa daftar proyek yang sudah disahkan maupun dalam proses usulan, dan meningkatlah mereka  menjadi pialang yang intinya kemana-mana yang dibicarakan hanyalah prosentase). Ini bisa jadi adalah sebagai rentetan ketidak puasan akan berbagai macam hal dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan ber pemerintah daerah. Mulai dari masalah layanan public, pendidikan, kesehatan, sarana-prasarana, pertanian, angkatan kerja dan lapangannya, ekonomi, sosial, budaya, KKN bagi orang/pihak/kelompok/golongan yang merasa sudah ikut andil dalam sebuah proses pemenangan. Bahkan sejalan dengan perkembangan dan pasang surutnya undang-undang yang mengatur tentang pemilihan kepala daerah misalnya; bahwa orang yang berdiri sebagai pihak lawan pun itu adalah bagian dari kelompok yang ikut membantu memenangkan pihak yang terpilih (kecuali pasca penetapan calon tunggal oleh Mahkamah Konstitusi), sehingga begitu besar ekspektasi harapan akan sebuah keadaan, kehidupan dan peruntungan yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat dalam sebuah proses demokrasi yang dipandegani oleh pemimpin yang lahir (terpilih).

Atas dasar itu semuanya saja, harus benar-benar sadar bahwa lahirnya seorang pemimpin adalah ujian bagi semua, jabatan adalah ujian khususnya bagi yang memikulnya. Walaupun kadang bagi satu dua orang diantaranya bahwa jabatan itu adalah kehormatan dengan segala nikmat nya, hal tersebut hanyalah sebagain kecil yang jumlahnya tak seberapa, akan tetapi yang lebih banyak dan mayoritas adalah bahwa jabatan adalah ujian. Baik bagi yang menjabat demikian juga bagi  yang memilih dan termasuk bagi yang tidak memilih, dengan kata lain mayoritas masyarakat pada umumnya. Dengan sederhana bahwa semakin tidak tau dirinya seorang pemimpin maka semakin besarlah cobaan dan godaan buat yang dipimpin.

Sebagai bagian dari masyarakat; harus disadari bahwa saat-saat kita menentukan pilihan sebelum dianya terpilih sesungguhnya adalah saat-saat yang sangat krusial, karena apapun hasil atas sebuah pilihan semuanya mengandung resiko dengan segala kemungkinan, sehingga langsung maupun tidak kita adalah orang pertama kali yang harus bertanggungjawab atas segala apa yang kelak dan kemudian akan terjadi dalam proses berjalannya kepemimpinan tersebut; akankah kepemimpinan itu akan berjalan sebagaimana yang dijanjikan, akankah kepemimpinan tersebut akan bermanfaat sebagaimana yang ideal, akankah kepemimpinan tersebut akan bermanfaat sebagaimana kehendak dari mayoritas kita,  ataukah sebaliknya dan sebaliknya dengan alasan apapun itu bahwa kita adalah pihak yang seharusnya bertanggungjawab. Terlebih bilamana jalannya kepemimpinan itu ternyata diluar daripada sebagaimana yang diharapkan (diluar dari segala hal yang dulunya muluk-muluk dan empuk-empuk) maka sebagai orang yang ber iman bisa dipastikan bahwa kepemimpinan sang pemimpin benar-benar menjadi ujian bagi kita untuk tidak menjadi orang yang berdosa. Karenanya setiap kepemimpinan wajib untuk kita kawal dengan sebaik mungkin, memastikan bahwa sang pemimpin jalannya tidak menceng jauh-jauh dari sebagaimana yang dijanjikan dan menjadi harapan masyarakat luas, dan bila ternyata pada akhirnya kita harus kecewa karena beberapa hal atau bahkan mungkin banyak hal, maka untuk tidak menjadi orang yang berdosa atau gemar menabung dosa, kita harus nyetok sabar dan juga ikhlas sebanyak-banyaknya. Disisi lain tidak menutup mata bahwa masih ada juga yang berpendapat “kini tugas menghantar saudara telah purna dan saatnya kami kembali pada keadaan semula untuk menjadi bukan siapa-siapa selain pihak yang berseberangan dengan saudara dalam rangka membela kepentingan rakyat,” yang disampaikan ini benar dan sangat ideal tetapi pada tataran implementasi hampir seluruhnya jargon demikian adalah “Nol BESAR” Karena justru orang yang demikian adalah orang yang paling mudah untuk di “rembuk” oleh pemimpin dan kekuasaan. Dengan demikian maka sabar untuk tidak berkata melebihi dari yang sewajarnya, termasuk tidak menyerang siapapun terutama pemimpin yang tadinya sangat kita idolakan, ikhklas karena kita adalah bagian penting yang terlibat didalamnya. Karenanya penting untuk kita renungkan berikut ini bahwa;

“memilih pemimpin dengan cara yang baik dan benar sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan benar”

Selamat Beraktifitas dan Sukses Buat Sahabat Semua

Salam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s